Ngaji Lepas, Sesat Kah?
Assalamu’alaikum wr. wb.
Ustadz yang terhormat
Saya udah lama ikut pengajian dan sering pindah pindah kelompok. Alasannya, saya merasa setiap kelompok selalu meninggikan “grup value” nya ketimbang “Islam value“nya.
Saya selalu menjumpai oknum dalam kelompok tersebut yang suka menyalahkan kelompok lain dan merasa kelompoknya yang bagus. Kondisi tersebut yang menyebabkan saya kecewa.
Akhirnya saya memutuskan untuk “ngaji lepas“, artinya saya tidak ngaji menetap di suatu kelompok tertentu saja. Sekarang metode saya ngaji tidak pandang kelompok, asalkan sesuai tuntunan Qur’an dan hadist. Termasuk ngaji online bersama Ustadz H.A. Sarwat.
Apakah metode tersebut efektif dan diperbolehkan dan tidak sesat?
Terima kasih
Wassalam
Apakah Ratib Al-Haddad Itu?
Assalamualaikum wr.wb
Saya mau tanya ustad, yaitu tentang segala hal yang terkait dengan bacaan “ratib al-haddad“, apa dan bagaimana “ratib” itu sebenarnya. Kenapa kok banyak dibaca orang saat pergi haji dan lainnya?
Dan sebenarnya apa hukum dari membaca ratib ini, boleh apa gak ustad, kok ada yang bilang itu bid’ah?
Sekian ustad
Terimakasih
Wassalamualaikum wr.wb
Siapakah Imam Syafi’i, Apakah Pelaku Bid’ah?
Assalamu ‘aalikum warahmatullahi wabarakatuh,
Semoga pak Ustadz Ahmad Sarwat, Lc selalu berada dalam lindungan dan rahmat Allah SWT.
Begini pak Ustadz, saya mohon pak Ustadz bisa memberikan sedikit penjelasan tentang As-syafi’i, siapakah sebenarnya dia? Sebab banyak orang yang mengaku bermazhab syafi’i, namun kalau saya perhatikan kok banyak perilakunya yang bertentangan dengan hadits yang shahih. Benarkah dia sering menggunakan hadits yang lemah dalam mazhabnya?
Mohon dijelaskan sedikit dengan sosok beliau, agar kami punya kejelasan dalam masalah ini.
Sebelumnya kami ucapkan terima kasih jazakumullah khairal jaza’,
wassalamu alaikum wr. wb.
Haramnya Laki-Laki Memakai Emas Tidak Ada di Quran
Assalamu’alaikum.
Pak ustadz, ana masih bingung mengenai haramnya emas, di mana kebanyakan riwayat hadist shahih emas tersebut haram, tetapi sedangkan di dalam al-Quran tidak ada nash yang menyebutkan bahwa emas itu haram.
Yang haram cuma ada 4 macam dan dirinci lagi menjadi 10 macam, apakah hadist shahih tersebut bertentangan dengan al-Quran? Apakah haramnya itu haram yang jelas atau haram makruh?
Ana mohon penjelasannya pak ustadz. Terus terang ana jadi bingung, karena ustadz di tempat saya belajar mengatakan bahwa emas itu tidak haram.
Wassalam,
Ahmad Musa
(lagi…)
Lapangan Ijtihad
Assalamu’alaikum ustadz,
Dalam lapangan ijtihad dikatakan bahwa obyek ijtihad itu adalah ayat-ayat Qur’an dan Hadits yang bersifat zhanni (samar). Apakah ayat-ayat Al-Qur’an ada yang tidak qath’i atau masih tergolong zhanni? Mohon penjelasannya, jazakumullah.
Wassalamu’alaikum,
M. Dimyati
Hukum Bermain Sepakbola
Assalamualaikum, stadz.
Saya mau bertanya tentang bagaimana hukum bermain sepakbola menurut ajaran Islam? Ada yang berpendapat bahwa bola yang dijadikan untuk bermain sepakbola itu asalnya dari kepala Sayyidina Hamzah yang dipotong ketika kalah waktu perang Uhud. Saya mohon kejelasan tentang masalah ini.
Wassalamualaikum.
Mochammad Zamachsyary
(lagi…)
Kebutuhan Belajar Bahasa Arab
Ass.Wr.Wb.
Ustadz, saya ingin sekali belajar bahasa Arab supaya lebih mudah dalam memahami al-Qur’an serta memudahkan dalam berda’wah. Sebaiknya tempatnya di mana ya? Mungkin ada referensi tempat. Saya sama sekali awam mengenai bahasa Arab dan ingin mulai dari awal.Wass. Wr. Wb.Andri Sugara
(lagi…)
Siapakah Haba’ib atau Habib Itu?
Assalamualaikum
Pak Ustadz saya mohon anda bisa memberikan penjelasan tentang gelar habib atau haba’ib.
1. Benarkah Haba’ib atau habib (Saripah = untuk wanita) itu merupakan keturunan Rasulullah seperti yang selama ini pernah saya dengar?
2. Masyarakat di daerah saya sangat mengkultuskan seorang haba’ib. Mereka menaruh hormat sekali pada orang yang bergelar haba’ib. Misalnya tidak boleh berbicara yang tidak baik, bahkan membantahpada haba’ib, nanti bisa kualat. Atau berebut mencium tangan atau memeluknya agar mendapatkan barokah.
3. Mereka juga percaya bahwa seorang habib itu telah dijamin surga oleh Allah SWT. Benarkah demikian?
Sebelumnya, saya ucapkan terimakasih atas perhatian anda. Semoga Allah memberikan rahmat dan karunia-Nya. Amin
Wassalamualaikum
Yana
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dari semua informasi tentang habib yang anda sebutkan, yang sudah pasti salah dan batil adalah yang terakhir, yaitu kepastian bahwa setiap habib pasti masuk surga.
Kepercayaan ini batil dan sanat fatal kalau sampai dijadikan keyakinan. Karena dalam aqidah ahlusunnah wal jamaah, yang makshum dan pasti masuk surga hanya nabi dan rasul saja. Karena para nabi dan rasul mendapat wahyu dari Allah SWT serta penjagaan ilahiyah, yang akan menjadi pengonntrol apabila akan melakukan kesalahan.
Sedangkan keluarga nabi baik isteri beliau maupun anak dan menantunya tidak mendapat wahyu, maka tidak mendapatkan penjagaan ilahiyah. Maka mereka tidak makshum. Dan karena tidak makshum, maka tidak ada jaminan untuk masuk surga.
Kecuali Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang secara pribadi, bukan anak keturunannya, telah dikabarkan oleh Rasulullah SAW sebagai salah satu dari 10 orang shahabat yang dib eri kabar gembira akan masuk surga.
Menghormati Ahlul Bait
Menghormati dan memuliakan ahlul bait, memang tidak salah bahkan diperintahkan oleh Al-Quran.
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab: 33)
Namun yang menjadi masalah, siapakah yang dimaksud dengan ahlul bait? Apakah isteri-isteri nabi ataukah Ali, Fatimah, Hasan, Husein dan anak keturunannya?
Kalau kita baca ayat di atas, lafadz ayat itu ditujukan kepada isteri-isteri nabi SAW. Mereka diminta untuk menetap di dalam rumah, tidak berhias, shalat, zakat dan mentaati Allah dan Rasul-Nya.
Lalu apakah para habaib itu termasuk ahlul bait?
Ada sekian banyak versi jawaban. Ada yang membenarkan dan ada juga yang menolaknya.
Buat mereka yang membenarkan, maka para habaib dan syarifah itu kemudian diperlakukan sedemikian rupa, yang intinya ingin memberikan penghormatan. Bahkan terkadang sampai terlewat lalu mengklaim merekasebagai makshum dijamin masuk surga.
Kalau sekedar menghormati dalam arti mencium tangan dan memuliakannya dengan memberi hadiah, rasanya masih bisa ditolelir. Karena untuk budaya sebagian masyarakat tertentu, mencium tangan orang dimuliakan memang sering kita lihat. Lagian tidak ada nash yang melarang kita mencium tangan orang yang kita muliakan dan kita cintai.
Akan tetapi kalau sudah sampai mengkultuskan habaib dan syarifah, seolah-olah mereka itu tidak mungkin melakukan dosa dan pasti masuk surga, maka cara berpikir seperti ini sesat dan menyesatkan. Dan para habaib sendiri juga menentang cara berpikir seperti ini.
Habaib dan Betawi
Budaya memuliakan para habaib akan lebih terasa di kalangan betawi. Sampai bekas minum mereka pun dianggap ada keberkahkahannya. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Penyebabnya sederhana saja. Sejak dahulu orang betawi punya pola hidup yang agak berbeda dengan suku lain. Mereka sangat dekat dengan ajaran Islam dan para pengajar agama. Kebetulan di masa lalu, para pengajar agama adalah para habaib itu. Masjid Kwitang dan madrasah Jamiat Khair Tenabang adalah situs yang bisa disebut sebagai sumber pengajaran agama Islam bagi orang betawi. Dan keduanya dipimpin oleh para habaib.
Jadi ketika orang betawi mencium tangan habib bolak-balik, mereka sedang menghormati guru mereka. Karena berkat guru itulah mereka jadi kenal agama Islam. Dan ajaran menghormati guru memang sangat kuat dan lekat.
Pola pandang seperti ini sebenarnya sah-sah saja. Di mana-mana murid memang harus hormat dan memuliakan gurunya.
Yang jadi masalah adalah kesalah-kaprahan orang di zaman sekarang yang memandang semua habib pasti orang berilmu dan berhak menjadi guru. Yang benar adalah bahwa sebagian dari habaib itu memang ada yang punya ilmu agama yang luas dan mendalam, tetapi sebagian besarnya justru tidak pernah belajar agama. Mereka adalah orang bodoh yang tidak punya ilmu tapi mengandalkan kehabiban dan keawaman umat saja. Akibatnya, banyak umat yang terkecoh dengan masalah ini.
Maka bila seorang habib memang ahli dalam ilmu syariah, katakanlah doktor di bidang ilmu syariah, atau ilmu hadits, atau ilmu tafsir, punya karya yang banyak, wajar bila kita hormati beliau dan kita muliakan.
Ekspresi rasa hormat pun tidak harus dengan cara-cara yang aneh, seperti minum dari gelas bekas minumnya. Atau mencium tangannya bolak-balik. Tapi hormatilah mereka sebagaimana umumnya kita menghormati para ustadz, guru dan ahli agama.
Habib Ali Kwitang
Salah satu dari kalangan habib yang sangat dihormati di Jakarta adalah Al-Habib Ali Alhabsyi (20 April 1870 - Juni 1968). Beliau dahulu tinggal di bilangan Kwitang Jakarta.
Habib Ali, yang selama hidupnya hampir tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah, termasuk ikut mendorong Syarikat Islam yang dipimpin HOS Cokroaminoato. Karena itu, beliau bersahabat dengan Haji Agus Salim, dan pernah bersama-sama dipenjarakan pada masa pendudukan Jepang.
Dalam rangka prinsip ukhuwah Islamiyah, karenanya di majelis-majelis taklim warga Betawi seperti dianjurkan Habib Ali, hampir tidak ada di antara mereka yang membesar-besarkan perbedaan, apalagi kalau perbedaan itu dalam masalah khilafiah.
Selain ahli dalam menyampaikan dakwah, beliau juga terkenal dengan akhlaknya tinggi, baik terhadap kawan maupun terhadap orang yang tidak suka kepadanya. Semuanya dihadapinya dengan ramah-tamah dan sopan santun yang tinggi.
Jika kita lewat ke Kelurahan Kwitang, Jakarta Pusat, setiap Ahad pukul 06.00 hingga 10.00 pagi, kita akan lihat kerumunan orang, setidaknya sekitar 20 ribu hingga 30 ribu orang. Dan jumlahnya bertambah lebih dari dua kali biasanya kalau lagi ada even tertentu.
Kwitang, salah satu kampung tua di Jakarta, dalam waktu-waktu itu biasa didatangi para jamaah dari Jabotabek. Mereka umumnya berasal dari Mampang, Buncit, Kemang, Ragunan, Pedurenan, Kebayoran Lama, Depok, Bojonggede, dan sekitarnya.
Majelis Taklim Kwitang, boleh dikatakan sebagai majelis taklim tertua di Jakarta. Kelompok ini telah berdiri sejak seabad lalu. Pendirinya adalah Habib Ali Alhabsji. Warga Betawi menyebutnya sebagai Habib Ali Kwitang.
Setelah Habib Ali meninggal, murid-muridnya seperti KH Abdullah Syafiie dan KH Tohir Rohili masing-masing mendirikan Majelis Taklim Syafiiyah, di Bali Matraman, Jakarta Selatan, dan Tohiriah di Jl Kampung Melayu Besar, Jakarta Selatan.
Kedua majelis taklim ini telah berkembang demikian rupa sehingga memiliki perguruan Islam, mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Karena punya akar yang sama, tiga majelis ini (Kwitang, Syafiiyah, dan Tahiriyah) selalu merujuk kitab an Nasaih ad-Diniyah karangan Habib Abdullah Alhadad, seorang sufi terkenal dari Hadramaut, Yaman Selatan. Ratibnya hingga kini dikenal dengan sebutan Ratib Haddad.
Menurut KH Abdul Rasyid AS, putra almarhum KH Abdullah Syafi’ie yang kini memimpin Majelis Taklim Asy-Syafi’iyah, sekalipun kitab kuning ini telah berusia 300 tahun, tapi masalah yang diangkat masih tetap relevan dan aktual saat ini.
Habib Ali memiliki banyak murid orang Betawi, termasuk KH Noer Ali, ulama dan tokoh pejuang dari Bekasi, karena pernah memiliki madrasah Unwanul Falah.
Madrasah Islam dengan sistem kelas didirikan pada tahun 1918, dan letaknya di Jl Kramat Kwirang II, berdekatan dengan Masjid Al-Riyadh, Kwitang. Untuk pertama kali waktu itu, madrasah ini juga terbuka untuk murid-murid wanita, sekalipun tempat duduknya dipisahkan dengan murid pria.
Ratusan di antara murid-murid sekolah ini, kemudian menjadi da’i terkemuka, dan banyak yang memimpin pesantren, termasuk Al-Awwabin pimpinan KH Abdurahman Nawi di Depok, dan Tebet, Jakarta Selatan.
Habib di Wikipedia
Kalau kita buka wikipedia, kita akan menemukan informasi bahwa Indonesia merupakan negeri muslim terbanyak yang terdapat habib yaitu sebanyak 2 juta, sedangkan yang masih hidup 1, 2 juta. Sementara di seluruh dunia tercatat 20 juta habib (muhibbin) yang terbagi 114 marga.
Hanya keturunan laki-laki saja yang berhak menyandang gelar habib. Organisasi yang melakukan pencatatan para habib ini adalah ar-Rabithah yang semula berpusat di Hadramaut, tempat di mana 80 keluarga habib semula berhijrah dari kota Mekah.
Sekarang ar-Rabithah telah memindahkan pusat kegiatannya di Tanah Abang, Jakarta, karena Indonesia, negara yang terbanyak memiliki para habib.
Salah satu di antara pengurusnya adalah Habib Rizik Syihab, pimpinan FPI (Front Pembela Islam) yang kini sedang didzhalimi oleh konspirasi zionisme international.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Sumber : Era Muslim
Ikut Casting Film Ketika Cinta Bertasbih
Sumber : Era Muslim
Seiring dengan antusias nya orang-orang yang ingin mengikuti audisi ketika cinta bertasbih, saya ingin menanyakan, bagaimana dalam Islam hukumnya ketika seorang akhwat (yg (*semoga) berpemahaman ISlam, dan menutup aurat sesuai syari’at Islam)??
Dalam pandangan Islam, apakah akhwat tersebut telah mengurangi dalam menjaga keiffahannya?
Saya mohon penjelasannya secepat mungkin, sebelum pelaksanaan audisi tersebut dilaksanakan.
Akhwat
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Film Ketika Cinta Bertasbih adalah film yang disutradarai oleh seorang ikhwah dan aktifis dakwah, yaitu Al-Akh Chaerul Umum. Kami secara akrab biasa menyapa beliau dengan sapaan “Mas Mamang.” Beliau adalah seorang aktifis dakwah yang kami kenal secara pribadi sejak tahun 1990-an.
Bahkan dahulu kami sendiri banyak beliau libatkan dalam beberapa produksi, seperti film Fatahillah (1997) yang dibintangi oleh Igo Ilham.
Bahkan kami diminta untuk menyampaikan materi pengajian buat seluruh kru dan bintang film tentang pahlawan kota Jakarta itu, yang sebagian shuyingnya mengambil lokasi di pantai Lombang Cirebon.
Kru Setengah Wali
Team work yang Mas Mamang bikin memang unik, lebih merupakan jamaah pengajian dari pada kru film. Bahkan saat itu kami masih ingat, syuting di bulan Ramadhan dan luar biasa, semua kru tidak ada satu pun yang bolong puasanya. Setiap malam para kru ikut tarawih lengkap dengan kultumnya. Begitu juga dengan sahur dan shalat shubuh, semua ikut shalat jamaah.
Sangat jauh dibandingkan dengan kru film umumnya, yang kalau break, mereka sibuk dengan berbagai hiburan, Mas Mamang malah menghadirkan banyak ustadz, seperti Al-Ustadz Abu Ridho, Al-Ustadz Ridwan, Al-Ustadz Ihsan Tandjung, Al-Ustadz Hidayat Rahim dan lainnya.
Mas Mamang lama berkecimpung di dunia dakwah dan masih tetap aktif di pengajian dan majelis taklim. Beliau banyak menimba ilmu dari para ustadz sejak masa kecilnya hingga sampai saat ini pun masih lebih sering ketemu para ustadz dari pada kamera film.
Yang kami ketahui saja, beliau punya ustadz favorite, yaitu almarhum Al-Ustadz Rahmat Abdullah, yang termasuk guru dan ustadz kami juga. Selain itu beliau juga banyak menimba ilmu dari para masyaikh seperti Al-Ustadz Abu Ridho.
Banyak film Islami yang telah beliau hasilkan. Bahkan boleh dibilang beliau adalah spesialis film Islami. Sebab hampir semua filmnya memang selalu bercerita tentang Islam. Berbeda dengan kisah Hanung Bramantio yang menurut pengakuannya sendiri baru sadar untuk bikin film Islam hanya ketika membuat film Ayat-ayat Cinta.
Sedangkan Mas Mamang justru sejak awal masuk ke dunia film sudah punya keinginan membara untuk berdakwah lewat film. Ketika kami masih kecil, kami masih ingat pernah diajak nonton film Islami yang berjudul “Al-Kautsar” yang diproduksi tahun 1977. Wah, kami masih kecil saja beliau sudah bikin film Islami.
Film dakwah beliau lainnya adalah “Titian Rambut Dibelah Tujuh” yang diproduksi tahun 1982. Ada juga film beliau dengan Bang Haji Rhoma Irama dan Kiyai Zaenudin MZ, yaitu Nada dan Dakwah, produksi tahun 1992.
Film Ketika Cinta Bertasbih
Sesaat sebelum berangkat ke Cairo, kami sempat berteleponan dengan sutradara yang berdahi hitam karena banyak sujud ini. Beliau bilang bahwa Al-Ustadz Abu Ridho pun diajak juga berangkat ke Mesir. Jadi amanlah, kalau sebuah film sudah dikawal oleh tokoh selevel ustadz itu.
Maka sepanjang yang kami ketahui dari semua pengalaman ini, rasanya tidak ada kurangnya bila seorang akhwat yang punya bakat di bidang film dan dunia akting, untuk ikutan juga dicasting. Mengingat team ini bukan sembarang team. Ceritanya juga cerita yang sudah jaminan mutu. Apalagi lokasinya yang sangat menarik, Mesir dengan sejuta pesonanya.
Tentu yang penting motivasinya. Jangan sekali-kali motivasinya hanya sekedar mencari polularitas, kekayaan, atau sekedar karir. Motivasinya harus semata-mata karena Allah SWT, bukan karena yang lain. Karena ingin berdakwah dan menghidupkan dakwah lewat film. Bukan sekedar untuk main film dan jadi bintang ngetop, lalu jadi artis yang lupa hakikat dan tugas seorang wanita.
Dan yang lebih penting komitmen dalam implementasi syariah. Percuma kita bikin film Islami, tapi dalam prakteknya justru malah penuh dengan execuse dan pembolehan-pembolehan yang tidak memenuhi syarat. Ini yang tetap harus dijaga dan wajib dipegang teguh.
Satu catatan yang pernah kami alami, memang Mas Mamang itu aktifis dakwah, sehingga beliau amat paham dengan aturan syar’i. Namun namanya juga perusahaan filmnya bukan milik beliau, maka pengaruh yang bisa beliau lakukan pasti ada batasnya. Bisa saja tidak semua kru itu seutuhnya aktifis dakwah juga.
Mungkin ada juga beberapa yang ‘orang luar’ yang masih belum sempurna implementasi syariah Islam. Kondisi seperti ini masih mungkin terjadi, bahkan di mana pun pasti akan kita temukan. Dan jangan langsung divonis negatif dulu. Sebab justru inilah kesempatan untuk berdakwah dan mengajak berbagai kalangan untuk lebih mengenal Islam.
Semoga lulus casting, kalau udah jadi bintang, jangan lupa shalat dan terus ngaji.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Sedekhah kepada Pengemis
Sumber : Era Muslim
Assallamu’allaikum, wr wb.
Pak ustadz saya mau bertanya,
1.apakah sedekah kita dapat dikatakan mengenahi sasaran jika kita bersedekhah kepada pengemis di jalalan yang kita kira mereka sangat membutuhkan dan berhak menerima. Tetapi ternyata pengemis itu secara financial jauh lebih baik dari kita
2.mohon dasar hukumnya
Wassallamua’allaikum
SN
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kita tidak hanya diperintah untuk sekedar bersedekah saja, tetapi kita diharapkan gemar dan banyak untuk bersedekah. Bersedekah bukan hanya pada satu titik tapi pada beberapa titik.
Ibarat petuah dalam managemen resiko, jangan tempatkan semua telur dalam satu keranjang, tapi tempatkan telur-telur itu di beberapa keranjang yang berbeda.
Adalah sebuah hal yang amat baik bahwa kita memanage proyek amal kebaikan secara terfokus. Misalnya kita mendirikan balai latihan kerja untuk melatih para pengangguran agar bisa bekerja. Tidak ada yang salah dalam masalah ini.
Tapi yang jangan kita lakukan adalah bila kita terobsesi untuk hanya melakukan satu proyek ini saja dalam urusan sedekah. Lalu kita tidak pernah mau memberi sedekah kepada pihak lain, termasuk pengemis.
Mengapa demikian?
Pertimbangannya adalah karena kemiskinan itu ada banyak bentuknya. Ada orang yang miskin secara sistem, tapi masih bisa makan untuk hari ini. Meski tetap kurang, tapi mereka masih bisa hidup.
Sementara ada sebagian orang yang miskin dalam arti pilihannya hanya dua. Mau hidup tapi harus mencuri biar perutnya terisi atau mati karena kelaparan.
Buat tipe kemiskinan yang kedua ini, rasanya bukan pada tempatnya kalau kita suruh ikut program pelatihan di balai latihan kerja. Sebab dia butuh makanan sekarang, bukan sebulan dua bulan lagi. Tipe kemiskinan yang seperti ini butuh uluran tangan langsung.
Dari sini kita perlu juga berpikir bahwa kita juga harus punya ’saham’ di berbagai jenis sedekah di dunia kemiskinan. Lagian kita pun tidak tahu, manakah dari sedekah kita itu yang nantinya akan menyelematkan diri kita dari api neraka.
Boleh jadi sedekah yang tidak ada artinya yang secara iseng kita lakukan, justru dinilai tinggi di sisi Allah.
Karena itu sekedar nasihat, ada baiknya bila kita tidak selalu menolak manakala ada pengemis yang datang kepada kita untuk meminta-minta. Setidaknya, kita tidak perlu bersuudzdzan bahwa orang itu jangan-jangan hanya penipu. Ya kalau benar, bagaimana kalau tidak?
Bagaimana seandainya ternyata memang orang itu memang benar-benar butuh makan? Siapa yang tahu?
Bagaimana bila justru uang seribu perak yang kita berikan sambil lalu kepada pengemis, justru uang itulah yang nantinya akan menyelematkan kita di alam kubur yang gelap dan sendiri itu?
Tidakkah kita berpikir tentang kemungkinan ini?
Lagi pula, pernah kah ada orang yang jatuh miskin gara-gara memberi uang kepada pengemis? Bandingkan dengan jajan kita yang terkadang jauh melebihi kebutuhan makan si pengemis itu sekeluarga.
Bukankah sekali kita nongkrong di kafe sekedar menjamu teman atau iseng, kita bisa menghabiskan uang berpuluh bahkan beratus ribu? Bukankah seporsi sate kambing plus sopnya yang kita makan di warung Sate Babe, harganya senilai makan si pengemis itu dengan keluarganya untuk beberapa hari?
Bukankah seporsi nasi Bryani kambing di restoran Arab plus acar dan teh mint-nya, nilainya bisa untuk makan puluhan anak gelandangan dari pada mereka jadi tukang todong di jalan?
Hidup ini penuh misteri, kita tidak pernah tahu apa hakikat di balik apa yang kita lihat secara lahiriyah ini.
Boleh jadi si pengemis yang sudah putus asa karena tidak ada orang yang mau memberinya makan, nekat mau merampok dan membunuh orang, tiba-tiba dia sadar dan trenyuh melihat kita susah payah memberinya uang, meski hanya selembar uang seribuan yang anak kita pun menolak kalau diberi uang jajan segitu, lalu membatalkan niatnya dan tidak jadi membunuh orang.
Siapa yang tahu?
Boleh jadi apa yang kita impikan tidak pernah jadi kenyataan, tetapi Allah SWT malah memberi kita sesuatu yang jauh lebih baik lagi, padahal kita belum pernah memimpikannya.
Kita tidak tahu, boleh jadi doa si pengemis yang diucapkannya secara tulus itu malah bisa menggertarkan arsy Allah, sehingga Allah SWT menurunkan ribuan malaikat untuk membuka pintu-pintu langit dan menurunkan rezeki yang jauh lebih banyak lagi kepada kita.
Siapa tahu? Kita tidak pernah tahu bukan?
Karena itu, dalam pandangan kami, tidak ada salahnya bila kita sekedar memberi sedekah kepada orang datang kepada kita untuk meminta. Kalau pun pas kebetulan kita lagi tidak punya uang, setidaknya kita bisa menyampaikannya dengan cukup sopan dan simpatik. Tanpa perlu kita usir atau kita hina.
Ini sekedar agar nantinya kita tidak ditodong oleh para malaikat di alam kubur, bahwa kita telah mengabaikan salah satu perintah Allah:
Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.(QS. Adh-Dhuha: 10)
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (QS. Adz-Dzariyah: 19)
Jelas sekali di ayat ini Allah SWT menyebutkan kata: orang miskin yang meminta. Jadi memang tidak salah kalau ada orang meminta lalu kita memberi. Setidaknya, ketika kita sudah memberikan, maka sudah gugur kewajiban kita. Di akhirat nanti, kita tidak akan diperkarakan dalam masalah yang satu ini. Sebab sesuai dengan laporan dan catatan malaikat, orang yang datang meminta kepada kita itu sudah kita beri.
Wallahu a’lam bishshawab wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ahmad Sarwat, Lc





